Saturday, 6 June 2009

Mengapa Buruh dan Pengusaha ke JK-Wiranto

sumber: http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/06/06/15580981/Sofyan.dan.Dita.Dukung.JK-Win

Sofyan dan Dita Dukung JK-Win
Sabtu, 6 Juni 2009 | 15:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Hanya sedikit titik yang menjadi tempat bertemunya harapan pengusaha dan para buruh. Namun Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi dan aktivis buruh Dita Indah Sari bertemu dalam sebuah titik. Dukungan terhadap pasangan capres dan cawapres Jusuf Kalla dan Wiranto.

Dalam acara deklarasi Relawan Berani Bangkit Mandiri (BBM) di Gedung Panti Trisula Perwari Menteng, Sabtu (6/6), Sofyan maupun Dita sama-sama memberikan dukungannya penuh terhadap pasangan JK-Win dalam Pemilihan Presiden mendatang.

Ketika didaulat berbicara, Dita, sebagai tuan rumah, mengatakan kepemimpinan JK terbukti praktis dan tegas dalam merespon kebutuhan rakyat. Apalagi dengan konsep ekonomi kemandirian yang dijanjikannya. Konsep yang ditawarkan, menurut Dita, memenuhi poin-poin yang selama ini didambakan para buruh, antara lain terkait program JK-Win untuk melindungi industri dalam negeri dan memperkenalkan sistem outsourcing dan kontrak kerja yang justru berpihak kepada buruh. "Kami merasa cocok dengan kemandirian ekonominya. Sedikit banyak gagasannya sangat nyambung," ujar Dita.

Sementara itu, Sofyan Wanandi yang diundang secara khusus oleh Dita dalam momen ini menilai dalam kondisi ekonomi yang belum stabil, perlu pemerintah yang berani melakukan terobosan seperti yang dikenal dari seorang JK. "Dari pengalaman saya ketika di Kadin perlu terobosan-terobosan, cuma Pak JK yang berani bersama-sama dengan kita untuk mendobrak. Tak ada satu pun pemimpin yang berani selain Pak JK," tutur Sofyan.

"Kalau Anda pilih yang sekarang ini, kita lari begini-begini aja. Kalau pilih Pak JK, tentu kita akan berlari lebih cepat," lanjut Sofyan.

Sofyan menambahkan tentulah gabungan antara pengusaha dan buruh akan menjadi kekuatan besar bagi pasangan JK-Win.

sumber: http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/06/06/14042077/Dita.Indah.Sari.JK-Win.Paling.Nyambung.dengan.Buruh
Dita Indah Sari: JK-Win Paling Nyambung dengan Buruh
Sabtu, 6 Juni 2009 | 14:04 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Aktivis buruh Dita Indah Sari menilai pasangan calon presiden dan wakil presiden Jusuf Kalla dan Wiranto adalah pasangan yang paling nyambung dengan para buruh. Oleh karena itu, para buruh dan pemuda yang tergabung dalam Relawan Berani Bangkit Mandiri (BBM) siap mendukung pemenangan pasangan ini dalam pemilu presiden mendatang.

"Kami merasa cocok dengan kemandirian ekonominya. Sedikit banyak gagasannya sangat nyambung," tutur Dita sebelum acara deklarasi di Gedung Panti Trisula Perwari Menteng yang juga dihadiri JK, Sabtu (6/6).

Konsep ekonomi kemandirian yang ditawarkan pasangan JK-Win, menurut Dita, memenuhi poin-poin yang selama ini didambakan para buruh, antara lain terkait program JK-Win untuk melindungi industri dalam negeri dan memperkenalkan sistem outsourcing dan kontrak kerja yang justru berpihak kepada buruh.

Selain itu, Dita menilai JK adalah tipe pemimpin yang berani memiliki sikap, tidak terjebak dalam formalitas komunikasi dengan rakyat dan cepat dalam bertindak. "Cocok dengan kami. Kami capek ya dengan pemimpin-pemimpin yang sering bersikap pragmatis dan berbicara tentang hal-hal umum," tutur Dita.

Kepemimpinan JK yang juga dinilai positif adalah solusi-solusi praktis yang kerap ditawarkan JK untuk menjawab permasalahan-permasalahan rakyat, terkait ekonomi. Latar belakang pengusaha yang dimiliki JK tidak menjadi persoalan bagi Dita.

"Yang penting sistem. Meski dia dari penguasaha, tapi dia punya sistem yang baik. Bagaimana dia menjaga sistem itu untuk mengatur dia sebagai pejabat dan pengusaha. Kalau konflik kepentingan kan bisa datang dari profesi apa saja," ungkap Dita.

Dalam deklarasi hari ini, para buruh akan mengajukan kontrak politik dengan JK-Win, meliputi jaminan perlindungan terhadap industri dalam negeri, perbaikan sistem kerja outsourcing dan kerja kontrak, serta komitmen untuk membangun komunikasi politik yang egaliter dan terbuka dengan rakyat.

Relawan ini akan deklarasi di 25 kota, seperti Solo, Semarang, Banten, Tangerang, dan Yogyakarta. Sebagai koordinator relawan, ia yakin suara buruh se-nusantara akan dapat digalang untuk mendukung pemenangan JK-Win.

Friday, 5 June 2009

JK dan Mega Terima Korban Lapindo, SBY Tidak




korban lapindo lupa bahwa SBY itu ramah sekali kalau pidato. dia tampak baik sekali di iklan-iklan. tapi sesungguhnya, gaya kepemimpinannya itu sangat formal, resmi, penuh protokoler. Tepuk tangan saja dia atur kalau sedang pidato. Masak mau menerima korban lumpur... kotor, kotor. Nanti ngotorin istana.

Siaran Pers Gerakan Menuntut Keadilan Korban Lapindo – 5 Juni 2009
Oleh ichwan kalimasada - 5 Juni 2009 - Dibaca 30 Kali -
sumber: http://public.kompasiana.com/2009/06/05/siaran-pers-gerakan-menuntut-keadilan-korban-lapindo-%E2%80%93-5-juni-2009/

Capres SBY Abaikan Aspirasi Korban Lapindo

Sejak Akhir Mei 2009, sepuluh anak korban Lapindo datang ke Jakarta, bermaksud menyerahkan ratusan surat-surat kaum muda dan anak-anak korban Lapindo kepada para Capres. Mereka hanya ingin meminta para calon presiden dan calon wakil presiden menunjukkan kepekaan dan keberpihakan sejati terhadap martabat korban sebagai warganegara RI, yang terus merosot akibat absennya kesungguhan dan keseriusan pengurus Negara, sejak pertama kali semburan lumpur Lapindo terjadi, hingga kini. Oleh karenanya, hari ini (05/06), anak-anak korban Lapindo berusaha menemui Capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sayangnya SBY mengabaikan aspirasi korban, Ia tak bersedia menemui mereka.

“Kehadiran Kami di Jakarta memberikan pesan untuk para Pemilih 2009, yang akan memilih Capres SBY. Jika pada sisa masa jabatannya sebagai Presiden, ia tak memiliki langkah nyata yang berpihak terhadap keselematan korban Lapindo. Pak SBY tak layak memimpin Indonesia ke depan,’ ungkap Fahmi, pemuda korban Lapindo dari Jati Rejo.

Dalam pekan ini anak muda korban Lapindo telah menyampaikan aspirasi dan menyerahkan surat anak korban Lapindo kepada Capres Jusuf Kalla (3/6) dan Megawati Soekarno Putri (5/6). Mereka juga bermaksud menyampaikan aspirasinya kepada SBY pada Jum’at (5/6) jam 14.00 Wib. Namun ironisnya, tak seperti Capres lainnya, SBY nampaknya enggan bertemu dengan anak-anak korban Lapindo.

Sudah tiga tahun lumpur Lapindo menenggelamkan rumah, tanah dan harapan warga Porong Sidoarjo. Sudah tiga tahun pula warga Porong dipaksa menghirup udara yang telah tercemar. Dalam waktu tiga tahun pula warga harus membeli air bersih, karena air tanah sudah tidak dapat dikonsumsi lagi.

Segala upaya telah dilakukan korban Lapindo. Dari melakukan unjuk rasa di depan Istana Negara mengemis perhatian Presiden dan Wakil Presiden, hingga upaya hukum kelompok masyarakat sipil di pengadilan. Sayangnya, rasa keadilan di negeri ini makin jauh dijangkau rakyat yang berhadapan dengan korporasi tambang skala besar, yang mendapat dukungan penuh penguasa.

Pemerintah SBY-JK merespon kecelakaan industri tambang tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No 14 Tahun 2007 dan Perpres No 48 tahun 2008. Perpres tersebut secara legal telah mengabaikan persoalan dampak kesehatan, lingkungan hidup dan sosial lainnya.

Sudah lebih tiga tahun semburan lumpur Lapindo. Bappenas mencatat setidaknya 28 sekolah Taman Kanak-kanak (TK), 33 sekolah non TK, dan dua pondok pesantren rusak akibat lumpur yang tak tertangani hingga kini. Bahkan ada 18 desa sama sekali tak diurus, dianggap tak masuk dalam peta terdampak versi Peraturan Presiden No 14/2007 dan Perpres 48/2008. Padahal sebagian rumah disana mengalami berbagai kerusakan, mulai retak-retak akibat amblesan tanah, munculnya gas liar berbahaya (bubble gas). Air bersih juga sulit di dapat sehingga membuat tambak dan lahan pertanian kesulitan air. Panen yang semula dilakukan tiga kali pertahun, menyusut menjadi sekali setahun. Sementara korban Lapindo menderita, keluarga Bakrie, pihak yang nyata harus bertanggungjawab atas bencana industrial lumpur Lapindo, agaknya tidak pernah terganggu tidur siangnya, bahkan dapat dengan tenang menyelenggarakan pesta perkawinan keluarganya yang supermewah tahun lalu.

Gerakan Masyarakat Sipil Menuntut Keadilan Korban Lumpur Lapindo

Jatam, Kontras, Kiara, Walhi, Satu Dunia, LBH Masyarakat, GMLL, UPC, Imparsial, YLBHI, ICEL, UPLINK, Institut Hijau Indonesia, KAU, Lapi Budaya, SAKSI, Solidaritas Perempuan, HRWG, Serikat Hijau Indonesia.

Kontak : Luluk Uliyah, JATAM, Hp 0815 94** ***, Firdaus Cahyadi, SatuDunia Hp. 0815 13** ****